Romantisme Martir
what the hell is Romantisme Martir? saya gak ngerti juga .... :D
Martir bisa jadi seseorang yang berkorban atau kehilangan nyawa untuk sesuatu yang menjadi kepercayaannya.
Menjadi seorang Martir merupakan "ultimate sacrifice" yang di puja-puja bak dewa di hampir semua ideologi, dari mulai agama, nasionalisme, suku, ras, golongan, kampung halaman, dll.
Sehingga Mati untuk negeri, Mati untuk agama, Mati untuk Suku mendapatkan tempat yang Agung di masyarakat.
Buat gue nothing wrong with this idea, memang society membutuhkan martir-martir untuk mempertahankan eskistensinya.
TAPI, menurut gue martir diperlukan jika dan hanya jika ada serangan fisik dari pihak lain (martir dari pihak lain)
Romantisme Martir
Dalam era globalisasi, multi kultural, civil society ini, kesempatan untuk menjadi martir berkurang.
Negara yang saling perang sudah jarang, perang suku atau ras di era pembauran sekarang sudah jarang. Saya rasa saat ini anda akan berteriak kalau saya salah besar dan perang - perang itu masih ada dimana-mana.
Justru itu point penting tulisan ini, menurut saya perang-perang antar suku atau negara terjadi karena adanya Romantisme Martir. Mereka-mereka yang memulai perang-perang tersebut ingin dirinya menjadi martir yang akan dikenang sepanjang sejarah, tanpa memandang bulu penderitaan dan korban yang jatuh kemudian, kemerosotan ekonomi, pendidikan yang terbengkalai dan sebagainya. Mungkin om George W Bush dulu juga merasa dia harus "berkorban" agar dunia jadi aman sentosa damai selamanya, hasilnya? perekonomian amerika anjlok, perekonomian iraq bubar berantakan, masyarakat afganistan juga nggak maju-maju, plus om Bush dianggap sebagai presiden yg gagal, inilah bahaya laten romantisme martir.
Contoh lain; pembangunan Masjid di dekat twin tower dan Pendirian Gereja di Bekasi. Dua hal ini sama-sama mendapatkan tentangan keras dari masyarakat sekitar. so? what to do? Kalo saya: ya udah pindah ajah deh, wong udah dimarahin penduduk sekitar, cari lokasi lain yg lebih diterima di masyarakatnya, toh mana bisa beribadah dengan tenang dan damai dibawah tekanan masyarakat sekitar. contoh spesifik dari kasus pendirian Gereja di Bekasi (kalo yg di new york kejauhan); romantisme martir membuat jemaah Gereja melakukan pawai provokatif atau tepatnya jalan kaki bersama menuju lokasi gereja, bukan karena gak punya kendaraan tp lebih karena romantisme itu. Begitu juga dengan para pemuda (?) yang menghadang mereka dan melakukan kekerasan merupakan hasil dari romantisme martir yang sama, ingin menjadi martir untuk melindungi kampungnya.
SO? gimana caranya mengurangi romantisme martir ini? PEMBAURAN !
asimilasi tanpa paksaan, toleransi yang sensitif, tidak ada penyekatan dan sebagainya.
Saya mendambakan dan merindukan toleransi para para Wali Songo; asimilasi tanpa paksaan, mendidik dengan memberikan contoh, menghargai dan menghormati adat istiadat lokal. Ada contoh yang sepele, tapi menurut saya luar biasa; adanya sate kerbau di daerah kudus. Saya sangat bangga bisa makan sate kerbau, saya bayangkan kaum muslim masa lalu yang lebih memilih makan sate kerbau daripada menyakiti hati sahabat - sahabatnya yang beragama Hindu, indahnya !
yuk hadirkan toleransi dan kikis romantisme martir....
