Wednesday, March 21, 2012

menzalimi

Kalo denger kata menzalimi, gue teringat diktator, raja-raja dan panglima perang yang semena-mena merampas hak – hak masyarakat untuk kepentingan pribadi. Saya membayangkan mereka menzalimi rakyatnya dengan penuh kekerasan, merentangkan sayap memenjara, menebar benih ketakutan untuk kepentingan pribadi. Ya, menzalimi adalah hal yang sangat mengerikan, saya tidak akan pernah mau menzalimi orang lain.

Benarkan saya tidak pernah menzalimi orang lain? Pernah, bahkan sering….

Kalau menurut KKBI (klo gak ngerti KKBI itu apa, google aja ya…), MENZALIMI berarti menindas, menganiaya, berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain.

Menindas ? nggak lah, menindas orang lain jarang saya lakukan, paling waktu jadi senior jaman ospek2 dulu, hehehe….

Menganiaya ? ampun deh nggak sanggup menganiaya, saya cinta damai, peace !

Berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain? Ya…ya… yang ini saya sering lakukan.

Untuk bisa berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain berarti harus ada kewenangan yang dilimpahkan ke saya. Tuhan memberikan suatu privilege kepada saya, memberikan suatu kewenangan kepada saya, dan kewenangan tersebut sering saya salah gunakan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain !

Gak percaya ?

Tuhan memberikan kewenangan atau otoritas bagi saya untuk mengemudikan mobil saya; saya suka memepetin & klaksonin motor-motor yg melawan arus, saya suka klaksonin or dim mobil-mobil yang lelet, saya suka memepet balik mobil-mobil yang memotong jalur saya dan saya setiap 2 hari sekali mengisi bensin dengan bensin bersubsidi. Ya, saya sering menzalimi.

Ya, saya menzalimi pengemudi motor-motor tersebut, saya dengan sengaja menimbulkan ketakutan dan ketidaknyamanan bagi mereka. Saya sering kekeuh tidak memberikan jalur saya bagi pengemudi mobil lain yang memotong jalur saya, padahal mungkin saja mereka sedang menuju rumah sakit atau mengejar pesawat terbang.

Tuhan memberikan banyaaaak kewenangan bagi anda, apakah anda menjaga kewenangan tersebut agar tidak menzalimi orang lain? Banyak hal-hal sederhana yang sebenarnya sama saja dengan menzalimi.

Saya ambil contoh sederhana, Tuhan memberi anda sebuah mobil. Kalau anda ganti lampu standar anda dengan HID yg mahal dan sangat terang benderang sampai membutakan pengemudi lain di malam hari = Menzalimi.

Kalau anda mengemudi dengan kecepatan 50 km/j di lajur paling kanan di jalan tol padahal banyak lho yg perlu buru-buru, memaksa orang pindah-pindah jalur, tingkat resiko kecelakaan meningkat = Menzalimi.

Kalau anda kena macet dimalam hari kaki anda terus menerus menekan pedal rem, supir mobil di belakang anda akan silau kena lampu rem anda = Menzalimi.

Saya mengaku sering menzalimi, saya mencoba menguranginya…..

Menghilangkannya sama sekali? Saya bukan manusia sempurna, apalagi kalau motor-motor yang melawan arus masih banyak, hahaha…

Cheers
Dodolagiisengsoalnyalagistress

Oh...No..... E-Toll Card is coming

Kemaren sempat heboh bp Dahlan Iskan sang Menteri 'ngamuk' di pintu masuk toll karena antrian panjang dan membebaskan pengendara gratis masuk toll.....ah, andaikan saja saya juga bisa melakukan hal yang sama tanpa di tangkap polisi n masuk penjara. *ngayal

Menurut saya sih pak menteri agak 'Lebay' ya.... kan bisa aja dia tegur baik2 si Dirut jasa marga, atau lewat pers, takutnya sikap beliau ini ditiru oleh oknum-oknum, nanti kalo jalanan macet berat pengemudi pada nggak mau bayar atau malah pengendara motor masuk toll dengan alasan macet di jalan arteri toll. Tapi sudahlah, saya nggak mau bahas itu, yang saya mau bahas adalah praktek penggunaan E-Toll Card mandiri & Jasa Marga. Dalam artikelnya dikutip bahwa Sang Menteri beranggapan sang E-Toll Card adalah penyelamat kemacetan/antrian di gardu Toll. Sorry, I beg to differ.

E-Toll Card

Gue termasuk pengguna E-toll card, karena rumah yg agak Jakarta coret mengandalkan Toll buat keluar-masuk Jakarta. Gue punya Tiga kartu E-Toll, banyak ya? nanti gue jelaskan kenapa. Sekarang kita kupas satu-satu pengalaman gue memakai E-Toll Card.

Ada 2 cara pemakaian E-toll Card, pertama melalui gardu toll biasa, disini anda serahkan kartu E-toll dan kemudian petugas akan membantu anda bertransaksi. Cara kedua adalah melalui Gerbang Toll Otomatis (GTO), sini tidak ada petugas, anda bertransaksi sendiri dengan mesin untuk membuka palang penghadang.

1. Penggunaan E-Toll Card TIDAK mempercepat transaksi.

Lho? kok bisa? Gini ceritanya, pada saat mobil anda menghampiri gardu toll, biasanya sang penjaga toll akan langsung otomatis berasumsi anda akan membayar dengan Tunai, hal ini dia lakukan agar mempercepat transaksi. Petugas ini benar, karena memang sebagian besar masyarakat memang masih setia membayar secara Tunai.

Nah, begitu anda sampai di depan gardu dan menyerahkan sang E-toll Card kepada petugas, maka sang Petugas harus meng-Cancel transaksi Tunai (yang tidak terjadi) baru kemudian dapat melanjutkan transaksi dengan E-Toll Card. Hal membuang-buang waktu sehingga transaksi anda TIDAK akan lebih cepat.

Seharusnya Mandiri atau Jasa Marga mengantisipasi hal ini dengan mengeluarkan E-toll Card berwarna cerah/terang bukan warna hitam yang ada sekarang, paling tidak sang Petugas penjaga toll dapat melihat kartu tersebut dari jarak yg lumayan jauh sehingga ia tidak perlu berasumsi anda akan membayar secara tunai.

2. GTO (Gerbang Toll Otomatis) = Nightmare

Ya, gerbang GTO ini sangat menyebalkan, bahkan untuk pengguna E-Toll card seperti saya.
Pertama, kondisi dimana masih banyak orang 'Idiot' (maaf) yang diperbolehkan oleh bangsa dan negara ini untuk mengemudikan mobil. Para teroris jalanan ini (maaf lagi) tidak mampu membaca tulisan sangat-sangat besar di depan gerbang GTO dan ikut antri masuk gardu GTO walaupun TIDAK memiliki E-Toll Card. Kemudian setelah sampai di antrian terdepan mesin GTO barulah mereka 'panik' karena tidak memiliki E-Toll Card.

Disinilah nightmare bagi mereka yang antri dibelakangnya dimulai. Biasanya para 'idiot' ini mencoba bernegosiasi dengan mesin GTO (mesin kok diajak nego), kemudian mencoba untuk mundur (walau banyak mobil dibelakangnya, tetep aja melambai-lambai minta semua mobil ikutan mundur (gubraks). Setelah adegan minta mundur, barulah biasanya ada petugas yg datang menghampiri, disini akan ada beberapa option bagi pengemudi 'idiot' (maaf lagi,) bisa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada pengemudi dibelakangnya (meminjam kartu) atau diwaktu-waktu tertentu bisa membeli E-toll Card di tempat tersebut (kalau ada salesnya) dengan uang 50 ribu.

Kedua, keberadaan gardu GTO mengacaukan harmonisasi antrian kendaraan, hal ini terjadi karena mereka yang tidak mempunyai E-Toll Card akan menghindari gardu GTO, kalau bisa menghidari dari jauh-jauh sih gak pa pa (antisipasi), tapi kalau udah deket baru pindah jalur yg nyebelin, ini menimbulkan pepet-memepet yg menjurus ke pertikaian dan saling pukul-memukul (true story, not me thou)

3. Menggunakan E-Toll Card tidak semudah iklan mereka

Nah, disinilah kenapa saya punya 3 kartu E-Toll Card. Pertama karena dulu isi ulang (top up) kartu ini agak susah, sekarang sih udah lumayan ya, banyak ATM dan POS (point of sales) yg bisa melakukan isi ulang, tapi bukan berarti MUDAH untuk melakukan isi ulang. ATM masih andalan saya, namun tidak semua ATM Mandiri mampu membaca E-Toll Card dan ATM yang seharusnya mampu membaca E-Toll Card sering ngadat dan tidak bisa membaca E-Toll Card. Jadi menemukan ATM yg mampu top-up probalilitasnya lumayan kecil. Memang di outlet Indo***t atau alf***t bisa isi ulang, tp nggak selalu bisa, kadang petugasnya juga kesulitan buat isi ulang karena nggak ngerti.

So, alasan saya punya tiga kartu adalah pengisian top up yang sulit dan sebagai kartu yang memiliki fungsi mirip uang tunai, saya agak males mengisinya dengan jumlah besar. Seandainya kartu ini hilang, saya tidak bisa claim apa-apa, Bank Mandiri dan Jasa Marga juga tidak bisa (tidak mau) menggantinya.

4. Machines are not reliable, my friend....

Mesin-nya suka rusaaaak......., beberapa GTO kadang tidak bisa mengeluarkan struk transaksi, gw gak tau ini human error (lupa isi kertas) atau emang mesinnya yg error. Kalau mesin di GTO rusak maka satu gardu akan totally shut down, ini membuat antrian di gardu lain bertambah panjaaaaaangi.

Mesin pembaca yg di gardu juga kadang-kadang nggak berfungsi, sehingga saya musti cari-cari duit di kantong agar bisa bayar secara Tunai, ini disertai permintaan maaf sang penjaga gardu dan diiringi klakson mobil dibelakang saya....


Tapi diluar semua komplain ini, saya yakin akan adanya pembelajaran, semoga kedepannya mereka lebih baik...

Tapi maaf, saat ini E-Toll Card bukanlah solusi kemacetan anda (maaf Pak Dahlan).

Selamat Bekerja ....